SENTANI – Festival Danau Sentani (FDS) XV 2026 telah berakhir, tetapi dampak yang ditinggalkan tidak hanya berupa kemeriahan panggung budaya. Festival yang digelar di Kabupaten Jayapura itu memperlihatkan bagaimana kekayaan budaya Papua dapat bertemu dengan pariwisata, UMKM dan ekonomi kreatif.
Lebih dari 15.000 pengunjung menghadiri penutupan FDS XV di Kabupaten Jayapura pada Sabtu, 5 September 2026. Tarian, nyanyian tradisional Papua hingga pertunjukan kembang api menjadi bagian dari penutupan festival yang mengangkat tema “Budayaku, Hidupku”.
Besarnya jumlah pengunjung memberi efek yang lebih luas. Kehadiran ribuan orang menciptakan pasar sementara bagi pedagang makanan, produk kerajinan, pelaku ekonomi kreatif hingga berbagai usaha masyarakat di sekitar kawasan festival.
Sejak awal penyelenggaraan, Pemerintah Kabupaten Jayapura memang melibatkan masyarakat adat dan pelaku UMKM. FDS dirancang tidak hanya sebagai panggung hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkenalkan budaya, kuliner serta potensi ekonomi masyarakat lokal kepada pengunjung yang lebih luas.
Ketika Budaya Menciptakan Pasar
Ada sisi menarik dari penyelenggaraan Festival Danau Sentani tahun ini.
Budaya yang selama ini lebih sering dilihat dari perspektif pelestarian ternyata juga memiliki nilai ekonomi.
Tarian tradisional menarik pengunjung. Pengunjung membutuhkan makanan, transportasi dan akomodasi. Mereka juga membeli kerajinan serta produk lokal. Pada titik inilah sebuah festival budaya dapat menciptakan rantai aktivitas ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
Pemerintah Provinsi Papua menyebut FDS XV sebagai ruang pertemuan budaya, pariwisata, ekonomi kreatif dan kebersamaan masyarakat. Pemerintah juga mendorong keterlibatan UMKM, penyedia kuliner tradisional, pangan lokal serta perajin selama festival berlangsung.
Pemerintah Kabupaten Jayapura sebelumnya juga menilai FDS mempunyai daya tarik wisata sekaligus memberikan dampak ekonomi kepada UMKM daerah.
Dengan kata lain, semakin banyak orang datang untuk melihat budaya Papua, semakin besar pula peluang produk masyarakat lokal bertemu dengan calon pembeli.
Festival Jangan Berhenti Menjadi Keramaian Tahunan
Besarnya antusiasme terhadap FDS membuka pertanyaan berikutnya: bagaimana mempertahankan dampak ekonomi tersebut setelah panggung festival dibongkar?
Ini menjadi bagian penting jika FDS ingin berkembang dari sekadar kalender acara tahunan menjadi penggerak ekonomi lokal.
Produk yang diperkenalkan selama festival, misalnya, dapat terus dipromosikan melalui kanal digital. Pelaku kuliner dapat dihubungkan dengan industri pariwisata. Kerajinan lokal dapat dikembangkan menjadi produk oleh-oleh khas Sentani.
Sementara kampung-kampung yang mempunyai tradisi, seni dan panorama menarik dapat memperoleh manfaat lebih panjang apabila terhubung dengan paket perjalanan wisata Danau Sentani.
Pendekatan seperti itu akan membuat hubungan antara budaya dan ekonomi tidak berakhir bersamaan dengan berakhirnya festival.
Dari Panggung Budaya Menuju Ekonomi Kreatif
Festival Danau Sentani mempunyai modal yang kuat untuk dikembangkan ke arah tersebut.
Danau Sentani sendiri menjadi daya tarik alam, sementara masyarakat di sekelilingnya memiliki seni, kuliner, kerajinan dan tradisi yang dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini Kemendikdasmen sebelumnya menilai FDS bukan hanya panggung seni dan budaya, tetapi juga menjadi tempat bertemunya pariwisata, UMKM dan ekonomi kreatif. Semakin besar kunjungan masyarakat, semakin terbuka pula kesempatan produk UMKM lokal untuk dikenal.
Artinya, kekuatan FDS sebenarnya bukan hanya terletak pada berapa banyak orang yang datang.
Nilai yang lebih besar muncul ketika festival mampu membuat pengunjung mengenal produk Papua, membeli karya masyarakat lokal, mendatangi destinasi wisata, kemudian membawa cerita mengenai Sentani ke daerah asalnya.
Budaya sebagai Aset Papua
Pengembangan ekonomi berbasis budaya juga memiliki dimensi yang lebih luas bagi Papua.
Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari kuliner, kerajinan, seni dan tradisinya, muncul insentif tambahan untuk mempertahankan pengetahuan serta keterampilan tersebut kepada generasi berikutnya.
Budaya dengan demikian tidak harus ditempatkan berhadapan dengan modernisasi.
Keduanya justru dapat berjalan bersama.
Festival Danau Sentani dapat menjadi contoh bagaimana identitas lokal dipertahankan sekaligus diperkenalkan melalui pariwisata dan ekonomi kreatif.
Bupati Jayapura Yunus Wonda sebelumnya menegaskan bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu atau kegiatan seremonial, tetapi merupakan identitas dan cara hidup masyarakat yang perlu diwariskan kepada generasi penerus.
Tantangannya sekarang adalah membuat momentum tersebut berkelanjutan.
Jika UMKM, masyarakat adat, pemerintah, industri pariwisata dan pelaku ekonomi kreatif dapat terus terhubung setelah festival selesai, FDS berpeluang berkembang menjadi lebih dari sekadar pesta budaya tahunan.
Festival Danau Sentani dapat menjadi etalase yang menunjukkan bahwa budaya Papua bukan hanya sesuatu yang harus dijaga, tetapi juga aset yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat yang memilikinya.
Sumber: Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Jayapura dan ANTARA Papua.








